Mar
24
Filed Under (Puisi Dan Cerpen) by nolanlasar on 24-03-2009

Oleh: Nolan Lasar

Pagi itu lagit begitu cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan, tapi tidak dengan om Yosep mukanya tampak lusuh, tak ada semangat, tak seperti biasa, dan bagi orang yang sudah mengenalnya pasti bertanya-tanya kenapa om Yosep begitu aneh pagi ini,  dengan sebatang rokok yang gabusnya sudah hancur digigitnya, dan secangkir kopi pahit, om Yosep duduk termenung diatas bale bambu, yang ada dibawah naungan pohon asam. Di dapur istrinya terus berkotek, sambil sesekali membating-banting tutupan panci, aku yang rumahnya bersebelahan dengan mereka suda terbiasa dengan tingka istrinya, dan bukan hal baru lagi, mendengar celotehan istrinya, tapi yang membuat aku bertanya-tanya dalam hati adalah tingka om Yosep yang tak biasa, ketika merespon  celotehan istrinya.

Rupanya ada masalah kecil di keluarga om Yosep, besok sore saudara dari istrinya yang baru kembali dari perantauan akan berkunjung kerumahnya, dan bagi masyarakat flores harus disuguhi, makanan yang memakai lauk daging, minimal daging ayam, tapi harus ayam jago. Keluarga om Yosep hidup pas-pasan, rumah yang mereka huni sekarang adalah peninggalan orang tua om Yosep, beratap seng karat yang sudah penuh dengan tambalan, berdinding kenekah (bambu yang dibelah dalam bahasa flores) dan berlantai semen yang juga penuh dengan tambalan. Om Yosep tak memiliki pekerjaan tetap, kalau musim hujan dia menggarap ladang peninngalan ortunya, yang luasnya ga nyampe satu hektar, kadang ia bekerja sebagai buruh bangunan, tapi bukan sebagai tukang, hanya pembantu tukang, namun dia harus menanggung seorang istri dan empat orang anak. Suatu hal yang membuat aku bangga terhadap om Yosep adalah semua anaknya disekolahkan di sekolah-sekolah faforit, dan dia selalu memenuhi keinginan anaknya yang berhubungan dengan pendidikan, misalnya membeli pianika untuk pelajaran seni music, buku-buku pelajaran dan lain-lain. Aku kadang bertanya-tanya dari mana om Yosep mendapat uang sebayak itu untuk membayar iuran anaknya yang bagi saya lumayan tinggi.

Ayam jago memang sudah dipersiapkan istrinya sejak pertama kali mendengar kabar kalau saudaranya akan berkunjung kerumah mereka, tapi pagi ini ketika istrinya bagun dia melihat sokal (sejenis keranjang yang terbuat dari ayaman daun lontar) yang dipakai untuk mengurung ayam jago, letakya tidak seperti tadi malam ketika ia mengrungnya, setelah diperiksa rupanya ayam jago telah hilang, ga tau dicuri orang atau kucing, kalau kucing,  pasti suara rontahan ayam jago terdengar dan buluh-buluhya masih berserakan. Tapi kali ini yang curi bukan kucing, seorang anak manusia.

Tadi malam aku, Pa Gaspar ketua RT 8, Om Yosep dan beberapa anak muda nongkrong di pos ronda, sekitar jam 10 malam pa Gaspar pamit, ia harus istirahat karena besok pagi harus kekelurahan, ada urusan yang harus diselesaikan. Om Yosep walaupun bukan jadwal rondanya ia tetap datang, yah buat nyari sebatang rokok. Kami ngobrol sampai jam 12 malam, tak lama kemudian pak Sinyo, datang membawa 5 botol bir bintang, dan 2 bungkus rokok Gudang Garam. Pak sinyo adalah seorang kontrakator, jika perusahanya memenangkan tender proyek, pasti dia selalu membagi kebahagaianya dengan mengajak minum-minum, maklum orang kaya.

Kami suda menghabiskan dua botol bir, tiba-tiba Om Yosep angkat bicara “Bagaimana kalau kita cari tambo?”, “Setuju” jawab om Sinyo, “Terus suda malam begini kita mau cari dimana?” samgahku, “Tenag saja” jawab beberapa anak muda, hampir bersamaan. “Okey kalau begitu kita tunggu anak-anak mencari tambo, baru kita sambung lagi” kata om Yosep, “Okey” semunya menjawab hapir bersamaan. Beberapa orang anak muda berjalan menyusur semak, ga tau kemana, yang lain membuat api, aku yang sudah agak pusing, langsung merebahkan diri diatas bele bambu yang ada di pos ronda, ga nayampe 5 menit akupun tertidur.

“Woe, woe bangun, mau sambung lagi ka tidak” kata om Yosep sambil menggoyang goyang tubuhku, “Ia, ia” jawabku sambil mengusap-uasap kedua mataku. Akupun terperanjat ketika melihat ayam panggang yang sudah di iris kecil-kecil dan ada sambel yang terbuat dari terasi, kecap, bawang merah dan jeruk nipis, semuahnya menggugah selerahku. “Dapat dari mana” tanyaku, “Tidak usah ditanya, dimakan saja” jawab om Yosep. Kamipun melanjutka perjamuan.

Janagan-jangan daging ayam yang tadi malam kami nikmati di pos ronda itu ayam jago punyanya om Yosep, sebuah pertanyaan terlintas dibenaku, aku jadi merasa bersalah,, walaupun bukan aku yang mencuri tapi akukan turut menikmati hasilnya. Sarapan pagi yang disiapkan istriku tak kuhabiska. Aku lalu bergegas ke rumah om Yosep, aku duduk disampingnya, di atas bale bambu, dia menatapku dengan heran “Kau tidak ke kantor ka?” Tanya om Yosep, “Saya ke kantor tapi sebentar, saya ada perlu dengan om” jawabku meyakinkanya, “Ada perlu apa” tanyanya lagi, “Begini om, ayam yang tadi malam kita makan itu siapa punya?” Aku kembali bertanya kepadanya, “Kayanya itu ayam saya punya, tapi saya belum tau pasti, saya belum Tanya anak-anak dorang yang tadi malam pergi cari tambo” jawabnya, “Ya suda ambil uang ini, om pergi cari ayam buat besok, om jamu om punya istri punya saudara” kataku sambil menyodorkan satu lembar uang pecahan seratus ribu rupiah. Om Yosep menolak tapi aku tetap memaksanya. Diapun mengambil uang tersebut dan mengucapkan bayak terima kasih buat aku. Dalam hatiku aku berkata “Om Yosep, om Yosep, katanya dimakan saja tidak usa ditanya, sekarang bertanya-tanya sendiri!”