Feb
07

Lamaholot yang berbudi adat

Filed Under (Pariwisata, Tradisi) by nolanlasar on 07-02-2009

BUDAYA Lamaholot adalah sebuah budaya daerah Flores Timur yang berbudi adat tinggi. Budaya Lamaholot memiliki pengertian yang sangat luas.
Lamaholot berasal dari dua kata, yaitu Lama dan Holot. Lama berarti kasta dan Holot berkembang dari kata Zolot, artinya kuning emas. Jadi Lama Holot itu berarti kasta emas. Kasta yang tinggi dan tidak bisa dipandang rendah.

Pada zaman sebelum masehi ada satu pulau besar yang namanya Pulau Zolot. Saat itu benua Australia masih bersatu dengan Pulau Flores, Pulau Timor, dan Pulau Sumba. Kalau kastanya kasta belaon, kasta Zolot, kasta emas, tentu memiliki nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang sungguh luar biasa dalam kehidupan bersama umat manusia.

Manusia dalam bahasa Lamaholot adalah atadiken. Atadiken yang melan-senaren. Karena itu juga di Lamaholot dikatakan ihiken selaka woraken belaon. Hal ini bukan sekadar ungkapan biasa.
Ungkapan ini menggambarkan tingkat kederajatan setara dengan derajat emas. Karena itu, segala pembicaraan terkait nilai-nilai seperti gender, keadilan persaudaraan dapat kita letakkan secara porposional dalam konteks peradaban dan kebudayaan Lamaholot pada masa lalu.
“Saya yakin dalam satu dekade ke depan kita akan menemukan benang merah yang menggambarkan itu semua. Bahwa di sinilah mulanya, di sinilah awalnya, saya yakin itu. Semua, yang katakanlah ditulis dalam sejarah, tanda petik cendrung ‘manipulatif’ akan berakhir. Karena kita akan menemukan sesuatu yang sedang dicari oleh dunia. Itulah identitas kita ajaran-ajaran leluhur kita tentang manusia, tentang budi adat manusia,” jelas Bupati Flores Timur, Drs. Simon Hayon, pada kunjungan kerjanya di beberapa desa di Adonara selama lima hari sejak tanggal 25 Februari sampai dengan 29 Februari 2008.

Kunjungan kerja bupati di desa tersebut dalam rangka melantik Kepala Desa Dawataa, Tapobali, Ipiebang, Terong, Beloto Kecamatan Adonara Timur, Kepala Desa Horinara, Kecamatan Klubagolit, peletakan batu pertama pembangunan Kantor Kopdit Guru Klubagolit, membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Guru Kecamatan Klubagolit, dan mengikuti proses seremonial adat di Desa Nobo, Kecamatan Ile Boleng.
Bupati Hayon menegaskan bahwa pentingnya pelestarian dan pengembangan kebudayaan Flores Timur agar tetap berdiri kokoh dan tidak tercemar oli pengaruh budaya barat.

Menjunjung tinggi budaya daerah adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia Flores Timur yang berbudi adat, manusia yang memiliki jati diri dalam upaya mewujudkan pembangunan daerah yang maju sejahtera, bermartabat dan berdaya saing sesuai dengan visi dan misi pembangunan Flores Timur sekarang adalah Pembangunan Berparadigma Budaya dengan kiat sukses menuju Flores Timur yang maju sejahtera, bermartabat dan berdaya saing.

Dalam era globalisasi, Bupati Hayon mengingatkan bahwa segala sesuatu yang bergerak mendunia atau secara global, tidak berarti bahwa kita harus kehilangan identitas, kita harus kehilangan jatidiri. “Saya percaya bahwa dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dominasi barat berakhir,” katanya.
Menurutnya, pola pikir dengan konsep-konsep yang telah mendunia dari barat dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama akan melemah. “Karena itu perlu kita bekerja sambil juga melihat tanda-tanda zaman, termasuk melihat tanda-tanda yang diberikan secara alamiah.

Dalam konteks Indonesia, kita membangun dengan konsep modernisasi. Sebagaimana yang sering saya katakan banyak serjana kita, orang Indonesia yang studi di luar negeri pulang ke Indonesia lalu buat konsep pembangunan Indonesia yang disebut dengan modernisasi,” ujarnya.
Konteks modernisasi itu, katanya, intinya bahwa negara harus mengembangkan industri, dan itu kita lihat di kota-kota besar. Industri bertumbuh begitu cepat tetapi pada saat yang bersamaan, manusia hanya menjadi bagian yang paling kecil dari sebuah sistem yang sangat rakus, dan di situ ketidakadilan justru terjadi.

“Kita lihat saja karyawan diperlakukan seenaknya dan itu menjadi tampilan sehari-hari di televisi dan media lainnya, bagaimana orang kumuh, orang bodoh, miskin diusir, dikejar seperti binatang. Itu konsep Indonesia, kata pembangunan kita ucap setiap hari, pada saat yang bersamaan kita menyaksikan bagaimana warganya dikejar-kejar seperti binatang,” katanya.
Pertanyaan kita, apakah itu yang disebut dengan pembangunan? Lebih khusus lagi di bidang ekonomi, sangat parah. Bangun Indonesia dengan konsep-konsep dan dengan pola pikir dari barat justru Indonesia mengalami kehancuran. Titik beratnya pada pertumbuhan ekonomi. Kita selalu mengandalkan angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia tujuh persen misalnya, pertumbuhan ekonomi NTT melampaui pertumbuhan nasional dan seterusnya.

Pertanyaannya, kata Hayon, apakah itu sungguhan ataukah sekadar memberi legitimasi kepada kekuasaan. Karena kalau angka pertumbuhan ekonomi itu tinggi dan pertumbuhan itu berkualitas, maka harus terlihat pada realita di lapangan dalam bentuk semakin meluas dan terbukanya lapangan kerja dan semakin meluasnya kesempatan berusaha. Kalau itu tidak ditunjukkan oleh angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, maka omong kosong.
“Saya ingin memberi gambaran seperti ini untuk menunjukan kepada kita bahwa pikiran-pikran dan konsep-konsep yang dirancang dari barat tidak selalu baik. Jadi, kita harus selalu selektif, sehingga pemahaman kita soal gender dan kekerasan kepada anak dan sebagainya harus diletakan secara proposional. Ini penting sekali supaya sambil kita membagun, kita juga tidak kehilangan jati diri/identitas. Sebab kalau kita bergerak dalam era global, sambil kita kehilangan identitas, maka menjadi komunitas yang mengambang dan itu sulit sekali. Suatu komunitas yang tidak tahu asal-usulnya akan menjadi komunitas yang tidak memiliki dasar pijak kehidupannya. Jadi kita tidak perlu terlalu yakin bahwa model-model yang berhasil di Barat kalau diterapkan di Indonesia otomatis berhasil,” tegas Hayon.

Dalam konteks Indonesia, demikian Hayon, Indonesia mengalami krisis ekonomi dan krisis moneter sebenarnya itu di hilirnya saja. Tapi di hulu, sebenarnya yang terjadi krisis kepemimpinan. Banyak orang temaka di Indonesia. Dulu pejabat negara bicara penghasilan tidak pernah pukul-pukul meja, sekarang orang bicara tentang perlunya tambahan penghasilan kesejahteraan sambil pukul meja. Hal “ini sesuatu yang menurut saya aneh, melihat rakyatnya yang susah, di sini orang berjuang menambah penghasilan sambil pukul-pukul meja,” katanya.
Kesejahteraan, diakuinya, selalu dikaitkan dengan pendapatan, juga selalu dikaitkan dengan ekonomi. Kesejahteraan itu adalah sebuah wawasan yang sangat luas, yang menyangkut keadilan di bidang politik, menyangkut kenyamanan, ketenangan batin. Malah ini tidak, peraturan-peraturan dari atas bicara kesejahteraan selalu soal perut, soal makan minum.

Secitra dengan Allah
Dalam kehidupan komunitas manusia sudah jelas tidak ada perbedaan status perempuan dan laki-laki. Semuanya mendapat posisi yang sama secitra dengan Allah.
Soal belis yang berkembang pada masyarakat adat, itu lebih banyak soal praktek yang sering kali dimaknai berbeda dari yang sesungguhnya. Belis sebenarnya merupakan penghargaan terhadap perempuan, tapi dalam praktek sering digunakan sebagai alat untuk lebih mengutamakan nilai ekonomis untuk menindas seperti du’un hope atau jual beli dan status sosial yang dimiliki. Hal itu yang salah karena ini bukan pada tataran substansi tapi pada tataran praktek yang keluar dari sistem yang dibangun secara adat yang telah mentradisi.
“Banyak hal dalam penelusuran saya selama dua tahun lebih ini menunjukan bahwa praktek-praktek itu sudah keluar dari sistem yang susungguhnya, yang menempatkan manusia sebagai yang melan senaren. Karena semua kita secitra dengan Allah. Karena itu saya mengajak kita semua untuk melihat praktek-praktek yang menyimpang itu sebagai yang bersifat kasuistik,” tutur Hayon.

Sistem yang berlaku di Lamaholot, katanya, pada dasarnya baik, tetapi dalam prakteknya selalu saja ada ketidakadilan, tidak adanya kesetaraan gender dan masih saja terjadi kekerasan terhadap anak.
“Mari kita lihat sebagai hal yang bersifat kasuistik. Dan, permasalahan yang sebenarnya ini yang perlu kita cari solusinya. Saya mencermati dalam banyak hal menyangkut pembentukan kepribadian anak mulai dari dasar itu, diambil alih oleh lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan. Sehingga tanggung jawab dari rumah sebagai inti pembentukan kepribadian anak terlepas,” katanya.

Masih banyak pertanyaan lanjutan untuk kita sekarang. “Kami dulu, mungkin orang tua masih miskin, makan malam selalu bersama-sama. Ketika habis makan, orang tua memberi wejangan, ingat kalau dewasa nanti, ingat apa yang menjadi milik orang tetap menjadi milik orang dan apa yang menjadi milik kita itulah milik kita,” tuturnya.
Pertanyaannya, apakah itu dilakukan atau tidak? Karena sering kali terjadi kita melempar tanggung jawab kepada sekolah. Bila tingkah laku anak tidak baik, maka sekolah yang menjadi sasaran. “Model seperti ini yang harus kita pikirkan bersama,” tegas Hayon. (d tibo/ben herin/humas setda flotim)

Sumber: http://spiritentete.blogspot.com/2008/04/lamaholot-yang-berbudi-adat.html



1 Comment So Far

zevy maran on 24 March, 2009 at 17:50 #
    

Bagaimana dengan budaya orang lamaholot saat ini????
only God knows why???


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: